Teori Dependensi



TEORI DEPENDENSI: KLASIK
Menurut Theotonio Dos Santos, Dependensi (ketergantungan) adalah keadaan dimana kehidupan ekonomi negara-negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari kehidupan ekonomi negara-negara lain, di mana negara-negara tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja. Negara-negara pinggiran yang pra-kapitalis merupakan negara-negara yang tidak dinamis, yang memakai cara produksi Asia yang berlainan dengan cara produksi feodal Eropa yang menghasilkan kapitalisme.negara-negara pinggiran ini, setelah disentuh oleh kapitalis maju, akan bangun dan berkembang mengikuti jejak negara-negara kapitalis maju. Namun terdapat kritikan mengenai teori tersebut, bahwa negara-negara pinggiran yang pra-kapitalis mempunyai dinamika sendiri yang bila disentuh oleh negara-negara kapitalis maju, akan berkembang secara mandiri. Justru karena negara-negara kapitalis maju ini perkembangan negara-negara pinggiran menjadi terhambat.

Dos Santos menguraikan 3 bentuk ketergantungan:
1. Ketergantungan Kolonial
  • Terjadi penjajahan dari negara pusat ke negara pinggiran.
  • Kegiatan ekonominya adalah ekspor barang-barang yang dibutuhkan negara pusat.
  • Hubungan penjajah-penduduk sekitar bersifat eksploitatif.
2. Ketergantungan Finansial-Industrial:
  • Negara pinggiran merdeka tetapi kekuatan finansialnya masih dikuasai oleh negara-negara pusat.
  • Ekspor masih berupa barang-barang yang dibutuhkan negara pusat.
  • Negara pusat menanamkan modalnya baik langsung maupun melalui kerjasama dengan pengusaha lokal.
3. Ketergantungan Teknologis-Industrial:
  • Bentuk ketergantungan baru.
  • Kegiatan ekonomi di negara pinggiran tidak lagi berupa ekspor bahan mentah untuk negara pusat.
  • Perusahaan multinasional mulai menanamkan modalnya di negara pinggiran dengan tujuan untuk kepentingan negara pinggiran.
  • Meskipun demikian teknologi dan patennya masih dikuasai oleh negara pusat.
Dos Santos membahas juga struktur produksi dari sebuah proses industrialis, bahwa:
1. Upah yang dibayarkan kepada buruh rendah sehingga daya beli buruh rendah.
2. Teknologi padat modal memunculkan industri modern, sehingga:
  • Menghilangkan lapangan kerja yang sudah ada.
  • Menciptakan lapangan kerja baru yg jumlahnya lebih sedikit.
  • Larinya keuntungan ke luar negeri membuat ketiadaan modal untuk membentuk industri nasional sendiri.
Oleh sebab itu, kapitalisme bukan kunci pemecahan masalah melainkan penyebab munculnya masalah ini.

Andre Gunder Frank dalam bukunya: “Capitalism and Underdevelopment in Latin America”, menggunakan konsep yang mirip dengan Prebisch dengan istilah negara-negara metropolis dan negara-negara satelit. Kaum borjuis di negara-negara metropolis bekerjasama dengan pejabat pemerintah dan kaum bojuis di negara-negara satelit. Fungsi kaum borjuis dan pemerintah negara satelit adalah sebagai payung politik serta memberi kemudahan bagi beroperasinya borjuis negara metropolis. Karena itu kemakmuran rakyat jelata jadi dinomor-duakan.

Tiga komponen utama teori Frank:
  1. Modal asing.
  2. Pemerintah lokal di negara-negara satelit.
  3. Kaum borjuis di negara-negara satelit.
Ciri-ciri dari perkembangan kapitalisme satelit:
  1. Kehidupan ekonomi yang tergantung.
  2. Terjadinya kerjasama antara modal asing dengan kelas tuan tanah (pemerintah) dengan para pedagang (borjuis lokal).
  3. Terjadinya ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin.
Akhirnya Frank menyatakan keterbelakangan di suatu negara hanya bisa diatasi melalui revolusi yang melahirkan sistem sosialis, tanpa melalui sistem kapitalis terlebih dahulu.

Hal berbeda diungkapkan oleh Theotonio Dos Santos. Apabila Frank yang selalu menganggap hubungan antara metropolis-satelit selalu negatif, Dos Santos berpendapat adanya hubungan positif. Hubungan positif tersebut adalah berkembangnya negara satelit mengikuti perkembangan negara induknya.

PERKEMBANGAN TEORI DEPENDENSI
Teori Dependensi yg dikemukakan oleh Frank dan Dos Santos tidak melihat keberhasilan negara-negara Industri Baru (NIC) seperti Korsel, Taiwan, Hongkong, dan Singapura. Oleh karena itu, seringkali dinyatakan bahwa teori ketergantungan menutup kemungkinan pertumbuhan ekonomi melalui industrialisasi di negara pinggiran.

Henrique Cardoso dengan gagasannya “Associated-Dependent Development” menyatakan bahwa produksi dapat dilakukan di negara-negara pinggiran karena adanya perlindungan sistem paten. Selain itu kebijakan proteksi dan bea masuk mendorong perusahaan multinasional untuk membangun perusahaan di negara pinggiran. Meskipun demikian, industrialisasi di negara pusat dan pinggiran tetap berbeda. Sifat-sifat industrialisasi di negara pinggiran adalah sebagai berikut:
  1. Ketimpangan pendapatan yang makin besar.
  2. Menekankan pada produksi barang-barang konsumsi mewah dan bukan barang-barang yang dibutuhkan rakyat.
  3. Mengakibatkan utang yang semakin tinggi jumlahnya dan menghasilkan kemiskinan.
  4. Kurang terserapnya tenaga kerja.
Peter Evans dengan gagasannya “Dependent Development” yang mirip dengan Cardoso menyatakan bahwa produksi sudah diserahkan ke negara pinggiran karena adanya kemajuan teknologi dan menguatnya rasa nasionalisme negara pinggiran. Dalam dependent development terjadi pembangunan industrialisasi di negara pinggiran dengan kerjasama borjuis lokal, muncul perusahaan multinasional raksasa, otak perusahaan tersebut berada di negara pusat dan cabang-cabang yg ada di negara pinggiran hanya boleh mengambil keputusan operasional di cabang tersebut.

Kerjasama antara pemerintah lokal dan modal asing bersifat kerjasama ekonomi sehingga mendorong terjadinya proses industrialisasi. Sedangkan kerjasama antara pemerintah dengan borjuis local bersifat politis untuk mendapatkan legitimasi politik, kaitannya dengan nasionalisme negara tersebut. Nasionalisme yg ada di negara pinggiran tidak dimaksudkan untuk membuat negara tersebut menjadi mandiri tetapi sebagai alat untuk memeras perusahaan multinasional tersebut.

Robert A. Packenham (1974), mengajukan kritik atas teori ketergantungan dengan menyebutkan kekuatan teori ketergantungan dan kelemahan teori ketergantungan. Menurut Packenham, kekuatan teori ketergantungan antara lain:
  1. Menekankan pada aspek internasional.
  2. Mempersoalkan akibat dari politik luar negeri (industri terhadap pinggiran).
  3. Mengkaitkan perubahan internal negara pinggiran dengan politik luar negeri negara maju.
  4. Mengaitkan antara analisis ekonomi dengan analisis politik.
  5. Membahas antarkelas dalam negeri dan hubungan kelas antarnegara dalam konteks internasional.
  6. Memberikan definisi yang berbeda tentang pembangunan ekonomi (tentang kelas-kelas sosial, antardaerah dan antarnegara).
Sedangkan kelemahan teori dependensi antara lain:
  1. Hanya menyalahkan kapitalisme.
  2. Konsep kunci yang kurang jelas termasuk istilah “ketergantungan”.
  3. Ketergantungan dianggap sebagai konsep yang dikotomis.
  4. Tidak ada kemungkinan lepas dari ketergantungan.
  5. Ketergantungan dianggap sebagai sesuatu yang negatif.
  6. Ketergantungan tidak melihat aspek psikologis.
  7. Ketergantungan menyepelekan konsep nasionalisme.
  8. Teori Ketergantungan sangat normatif dan subyektif.
  9. Hubungan antarnegara dalam teori ketergantungan bersifat zero-sum game (kalau yang satu untung, yang lain rugi), padahal kenyataannya tidak ada hubungan yang bersifat seperti itu.
  10. Karena konsepnya tidak jelas maka tidak dapat diuji kebenarannya, sehingga teori ini menjadi tautologies (selalu benar).
  11. Menganggap aktor politik sebagai boneka dari kepentingan modal asing.
  12. Kajian yang kurang rinci dan tajam akibatnya teori ini kurang dapat dipergunakan untuk menganalisis dengan tajam.


6 comments:

  1. apakah tidak ada daftar rujukannya?? footnote atau daftar pustaka?

    ReplyDelete
  2. thank's infonya
    ini utk bahan kuliah ku semester V

    ReplyDelete

DO-FOLLOW BLOG

No Spam, No Rasis, No Anarkis, Relevant with Topic 'n Just Good Comment(s)