Metode Penelitian Kualitatif

Dalam analisis data kualitatif, sebenarnya peneliti tidak harus menutup diri terhadap kemungkinan penggunaan data kualitatif, karena data ini bermanfaat bagi pengembangan analisis itu sendiri. Prosedur penelitian lapangan yang lain yang umum ialah memeriksa apa yang dikatakan oleh partisipan atau pengamat yang berbeda-beda itu tentang satu kenyataan setelah itu terjadi. Peneliti perpustakaan seringkali tidak mengalami kesulitan besar dalam menggunakan taktik ini. Tiga taktik yang lebih paralel dalam penelitian lapangan atau penelitian perpustakaan. Pertama, tentu saja sangat mungkin kita mengikuti sekuen-sekuen tertentu dari kejadian-kejadian yang bekaitan. Kedua, seorang peneliti lapangan berharap biasa menentukan siapa yang “terlibat” dalam satu kejadian dan siapa yang tidak atau siapa yang mungkin tahu tentang hal itu dan siapa yang mungkin tidak tahu; peneliti perpustakaan harus pula menemukan bagaimana informan yang bermacam-macam itu mengukur dan menilai hal-hal semacam itu. Ketiga, seringkali peneliti lapangan “terjerumus” oleh makna kata kunci yang mereka lihat digunakan secara konstan oleh masyarakat.

TEKNIK ANALISIS KUALITATIF

1. Content Analysis (Teknik Analisis Isi)
Teknik ini merupakan strategi verifikasi kulitatif, teknik analisis data ini dianggap sebagai teknik analisis data yang sering digunakan. Artinya teknik ini adalah yang paling abstrak untuk analisis data-data kualitatif. Secara teknik, content analysis mencakup upaya-upaya, klasifikasi lambang-lambang yang dipakai dalam komunikasi, menggunakan kriteria dalam klasifikasi, dan menggunakan teknik analisis tertentu dalam membuat produksi. Analisis ini sering digunakan dalam analisis-analisis verifikasi. Cara kerja atau logika analisis ini sesungguhnya sama dengan kenbayakan analisis data kualitatif. Peneliti memulai analisis dengan menggunakan lambang-lambang tertentu, mengklasifikasi data tersebut dengan kriteria-kriteria tertentu serta melakukan prediksi dengan teknik analisis yang tertentu pula seperti yang dijelaskan pada alur, sebagai berikut:



2. Domain Analysis (Teknik Analisis Domain)
Analisis domain digunakan untuk menganalisis gambaran objek peneliti secara umum atau ditingkat permukaan, namun relatif utuh tentang objek penelitian tersebut. Teknik analisis ini terkenal sebagai teknik yang dipakai dalam penelitian yang bertujuan eksplorasi. Artinya, analisis hasil penelitian ini hanya ditargetkan untuk memperoleh gambaran seutuhnya dari objek yang diteliti, tanpa harus diperincikan secara detail unsur-unsur yang ada dalam keutuhan objek penelitian tersebut. Misalnya seorang peneliti menganalisa lembaga sosial sosial, maka domain atau kategori simbolik dari lembaga sosial antara lain: keluarga, perguruan tinggi, rumah sakit. Sehubungan dengan kemungkinan bervariasinya domain, maka disarankan menggunakan hubungan semantik (semantik relationship) yang bersifat unversal dalam analisis domain sebagai berikut:
  1. Jenis
  2. Ruang
  3. Sebab akibat
  4. Rasional
  5. Lokasi kegiatan
  6. Cara ke tujuan
  7. Fungsi
  8. Urutan
  9. Atribut

Ada 6 langkah dalam mengaplikasikan analisis domain:
  1. Memilih pola hubungan semantik tertentu atas dasar informasi atau fakta yang tersedia dalam catatan harian peneliti di lapangan.
  2. Menyiapkan kerja analisis domain.
  3. Memilih kesamaan-kesamaan data dari catatan harian peneliti di lapangan.
  4. Mencari konsep-konsep induk dan kategori-kategori simbolik dari tertentu yang sesuai dengan suatu pola hubungan semantik.
  5. Menyusun pertayaan-pertayaan struktural untuk masing-masing domain.
  6. Membuat daftar keseluruhan domain dari seluruh data yang ada.

3. Taksonomi Analysis (Teknik Analisis Taksonomi)
Teknik analisis domain memberikan hasil analisis yang luas dan umum, tetapi belum terperinci serta masih bersifat menyeluruh. Apabila yang diinginkan adalah suatu hasil dari analisis yang terfokus pada suatu domain atau sub-sub domain tertentu maka peneliti harus menggunakan teknik analisis taksonomi. Teknik ini terfokus pada domain-domain tertentu, kemudian memilih domain tesebut menjadi sub-sub domain serta bagian-bagian yang lebih khusus dan terperinci, yang umumnya merupakan satu rumpun yang memiliki kesamaan. Hal yang perlu dikethui pula bahwa banyak sedikit pecahan-pecahan domain menjadi sub domain dan seterusnya, tergantung pada kompleksnya domain itu sendiri atau tergantung pada peneliti mengembangkan kompleksitas domain tertentu.

4. Compential Analysis (Teknik Analisis Kompensional)
Teknik analisis komponensial adalah teknik analisis yang cukup menarik dan paling mudah dilakukan karena menggunakan “pendekatan kontras antar elemen”. Kedua teknik analisis tersebut pada umumnya digunakan dalam ilmu-ilmu sosial karena dua cara ini adalah yang termudah untuk gejala-gejala sosial. Teknik analisis komponensial secara keseluruhan memiliki kesamaan kerja dengan teknik analisis taksonomik, hal yang membedakan kedua teknik analisis ini hanyalah pada pendekatan yang dipakai oleh masing-masing teknik analisis. Teknik analisis komponensial digunakan dalam analisis kualitatif untuk menganalisis unsur-unsur yang memiliki hubungan-hubungan yang kontras satu sama yang lain dalam domain-domain yang telah ditentukan untuk dianalisis secara lebih terpirinci. Kegiatan analisis dapat dimulai dengan menggunakan beberapa tahap yaitu:
  1. Penggelaran hasil observasi dan wawancara.
  2. Pemilihan hasil observasi dan wawancara.
  3. Menemukan elemen-elemen kontras.

5. Discovering Cultural Themes Analysis (Teknik Analisis Tema Kultural)
Teknik analisis tema memiliki bentuk yang sama dengan teknik analisis domain, tetapi muatan analisis berbeda dengan yang tersirat dalam nama masing-masing teknik tersebut. Teknik analisis tema mencoba mengumpulkan sekian banyak tema-tema, fokus budaya, etos budaya, nilai dan simbol budaya yang terkosentrasi pada domain-domain tertentu. Selain itu, analisis tema berusaha menemukan hubungan-hubungan yang terdapat pada domain-domain yang dianalisis sehingga akan membentuk suatu kesatuan yang holistik, dalam suatu complex pattern yang akhirnya akan menampakkan ke permukaan tentang tema-tema atau faktor yang paling mendomnasi domain tersebut dan mana yang kurang mendominasi. Ada beberapa hal yang secara prinsip paling menonjol pada analisis ini yaitu dalam melakukan analisis. Peneliti harus kegiatan sebagai berikut:
  1. Peneliti harus mampu melakukan “analisis kompenonsial antar domain”.
  2. Membuat skema sarang laba-laba untuk dapat terbentuk pada domain satu dengan lainnya.
  3. Menarik makna dari hubungan-hubungan yang terbentuk pada masing-masing domain.
  4. Menarik kesimpulan secara universal dan holistik tentang makna persoalan sesungguhnya yang sedang dianalisis.

Sebelum hasil analisis ini dibuat dalam sebuah laporan, maka peneliti sekali lagi harus melakukan komparasi hasil analisisnya dengan berbagai macam literatur yang ada serta kelompok atau masyarakat lain sehubungan dengan persoalan yang ditelitinya.

6. Constant Comperatif Analysis (Teknik Analisis Komperatif Konstan)
Teknik ini adalah yang paling ekstrim menerapkan strategi analisis deskriptif. Dikatakan ekstrim karena teknik ini betul-betul menerapkan logika induktif dalam analisisnya, hal tersebut jarang kita jumpai dalam penelitian-penelitian sosial. Esensinya bahwa teknik analisis komparatif adalah teknik yang digunakan untuk membandingkan kejadian-kejadian yang terjadi disaat peneliti menganalisa kejadian tersebut dan dilakukan secara terus-menerus sepanjang penelitian ini dilakukan. Langkah-langkah dalam teknik komparatif konstan:
  1. Tahap membandingakan kejadian yang dapat diterapkan pada tiap kategori.
  2. Tahap memandukan kategori dan ciri-cirinya.
  3. Tahap membatasi lingkup teori.
  4. Tahap menulis teori.
  5. Peneliti harus mempublikasikan teori yang ditemukannya dengan penuh keyakinan.

7. Induction Analysis (Analisis Induksi)
Pengujian intensif pada strategi yang memilih beberapa kasus yang di bangun dengan pengalaman menyebabkan suatu fenomena. Langkah-langkah dari Analisis Induksi:
  1. Definisi kasar dari fenomena harus sudah dirumuskan.
  2. Hipotesis harus sudah di bangun.
  3. Salah satu masalah diuji dengan apakah objekti atau tidak hipotesis sesuai dengan hasil fakta observasi.
  4. Jika hipotesisi tidak sama atau hipotesis ditulis ulang atau fenomena yang dijelasdkan didefinisikan ulang kasus itu ditiadakan.
  5. Prosedur dari pengujian suatu kasus dan diluar kasus negatif dari formulasi hipotesis atau fenomena yang didefinisi ulang dilanjutkan sampai hubungannya ada.
Analisis induksi ini digunakan unuk mengeliminasi kasus negatif.

8. Skala Thurstone
Skala ini berisi item-item yang disususn menurut taraf intensitasnya dari yang tinggi sampai yang rendah. Tujuan dari Skala Thurstone ini sama dengan skala likert yaitu membedakan intensitas sikap atau perasaan seseorang terhadap suatu hal tertentu. Langkah-langkah skala ini:
  1. Mengumpulkan item-item atau pernyataan.
  2. Memilih beberapa item ynag dianggap dapat dipercaya menurut intensitasnya.
  3. Menempatkan setiap item pada salah satu dari beberapa ketegori.
  4. Menentukan nilai yang paling tinggi dan yang paling rendah.

9. Skala Guttman
Skala ini mengukur dimensi yang sama dari sikap tertentu dalam berbagai intensitas dari yang paling kuat atau tinggi sampai yang paling lemah atau rendah. Skala ini antara lain bertujuan untuk menentukan hingga manakah suatu skala sikap berdimensi satu atau unidimensional. Langkah-langkah skala ini:
  1. Tersusun penyataan yang menggambarkan sikap tertentu
  2. Responden menyetujui dan menerima pernyataan
Kelebihan Skala Guttman ini adalah skala ini mengukur intensitas sikap secara unidimensional yaitu satu dimensi dari sikap itu.

***SEMOGA BERMANFAAT***

Comments